Bab 36
Polisi Tata Bahasa
Pagi itu, Patrick Star mengenakan rompi keselamatan berwarna oranye terang yang dia temukan di tempat sampah, lengkap dengan peluit plastik kuning yang tergantung di lehernya. Dia berdiri di persimpangan jalan utama Bikini Bottom sambil memegang papan kayu bertuliskan: STOP! HARAP BICARA DENGAN BENAR ATAU DENDA SATU KATA.
Spongebob yang sedang berjalan santai sambil bersiul, menyapa dengan riang. "Halo Patrick! Wah, kau terlihat sangat resmi hari ini. Apa kau sedang menjaga lalu lintas?"
PRRRIIIITTT!!!
Patrick meniup peluitnya dengan keras tepat di depan wajah Spongebob. "Berhenti di sana, Tuan Squarepants! Anda baru saja melanggar hukum komunikasi pasal 4!"
Spongebob terkejut hingga badannya menciut. "Hukum apa? Apa yang kulakukan?"
Patrick mengeluarkan buku catatan dari robekkan kardus. "Kau bilang Halo Patrick. Itu terlalu singkat! Kau menghemat kata-kata seolah-olah kata adalah uang yang kau pelitkan! Seharusnya kau bilang, selamat pagi yang mulia sahabatku Patrick Star yang sedang bertugas di bawah sinar matahari yang menyengat."
"Tapi Patrick, itu terlalu panjang untuk sebuah sapaan," protes Spongebob.
PRRRIIIITTT!!!
"Denda satu kata!" seru Patrick. "Sekarang kau dilarang menggunakan kata tapi selama sisa hari ini. Jika kau mengucapkannya, kau harus menyerahkan satu cokelat padaku."
Tak lama kemudian, Squidward lewat dengan terburu-buru. "Minggir, Patrick! Aku sedang terburu-buru ingin ke toko alat musik sebelum mereka tutup!"
Patrick langsung merentangkan tangannya, menghalangi jalan Squidward. "Maaf, Tuan Gurita. Kecepatan bicara Anda melampaui batas yang diizinkan. Anda bicara terlalu cepat, sehingga telingaku tidak sempat mengunyah kata-katamu dengan baik."
Squidward menggeram. "Aku tidak punya waktu untuk permainan bodohmu, Patrick! Biarkan aku lewat!"
"Oh, penggunaan tanda seru yang sangat kasar," gumam Patrick sambil mencatat. "Itu adalah pencemaran suara tingkat tinggi. Anda dijatuhi hukuman untuk berbicara dengan nada opera selama sepuluh menit ke depan."
"Apa?! Kau gila!" teriak Squidward.
"Nyanyikan itu, Squidward! Pakai nada tinggi!" perintah Patrick.
Squidward, yang merasa sangat kesal tapi ingin segera pergi, akhirnya berteriak dengan nada opera yang melengking, "KAAAAAAAUUUU GIIIIIILLLLAAAAAAA...!!!" lalu berlari pergi dengan wajah merah padam.
Patrick tersenyum puas. "Bagus. Estetika kota ini mulai membaik."
Spongebob kembali mendekat. "Patrick, bukankah ini... (dia hampir mengucap kata tapi)... maksudku, hal ini membuat orang sulit berkomunikasi?"
"Itulah tujuannya, Spongebob!" Patrick menjelaskan dengan gaya profesor. "Jika orang sulit bicara, maka mereka akan diam. Dan jika semua orang diam, dunia akan menjadi tenang, dan aku bisa tidur siang tanpa terganggu oleh suara orang yang sedang menanyakan arah jalan!"
Spongebob terdiam. Dia mencoba memikirkan kalimat tanpa kata tapi. "Patrick, ini adalah ide yang... unik. Namun, bagaimana jika ada keadaan darurat?"
Tepat saat itu, seekor ubur-ubur besar mengejar seorang warga di kejauhan. Warga itu berteriak, "TOLONG! SESEORANG TOLONG AKU!"
Patrick meniup peluitnya dan berteriak ke arah warga itu. "Gunakan kata yang lebih detail! Sebutkan warna ubur-uburnya dan mintalah tolong dengan sopan santun yang berlaku!"
Warga itu akhirnya tersengat ubur-ubur karena terlalu sibuk memikirkan tata bahasa yang benar sesuai permintaan Patrick.
Patrick menggelengkan kepala dengan kecewa. "Lihat itu, Spongebob. Kurangnya pendidikan tata bahasa benar-benar menyakitkan."
Spongebob hanya bisa mengangguk pelan, takut terkena denda kata lagi, sementara Patrick terus berdiri di sana, siap meniup peluitnya kepada siapa saja yang berani bicara tanpa menggunakan setidaknya tiga kata sifat dalam satu kalimat.
Bicaralah dengan pelan dan penuh dekorasi. Jika kau bicara terlalu singkat, itu artinya kau malas berpikir. Dan jika kau malas berpikir, biarkan aku yang berpikir untukmu dengan imbalan satu buah cokelat.