Bab 35
Jasa Sewa Teman Khayalan
Pagi itu, Patrick duduk di atas sebuah kursi kayu kecil di depan rumahnya. Di sampingnya, ada sebuah kursi kosong yang diletakkan dengan sangat rapi. Di depan meja, terdapat papan pengumuman yang ditulis dengan krayon air: BIRO JASA TEMAN KHAYALAN PATRICK - KAMI ADA (TAPI TIDAK TERLIHAT).
Spongebob yang sedang meniup gelembung di halaman sebelah, menoleh dengan antusias. "Patrick! Apa kau punya teman baru? Kenapa kau menyiapkan kursi tambahan?"
Patrick meletakkan jari telunjuk di bibirnya. "Sssttt! Jangan berisik, Spongebob. Kau bisa menyinggung perasaan Barnaby. Dia sedang menikmati tehnya."
Spongebob mendekat dan menatap kursi kosong itu dengan mata membelalak. "Barnaby? Siapa itu? Aku tidak melihat siapa-siapa."
"Itulah intinya!" sahut Patrick bangga. "Barnaby adalah teman khayalan profesional. Dan hari ini, aku membuka jasa penyewaan teman khayalan bagi siapa saja yang merasa kesepian tapi malas bicara dengan orang sungguhan."
"Wah, itu terdengar sangat praktis!" seru Spongebob. "Berapa biaya sewa Barnaby?"
"Satu permen karet per jam," jawab Patrick tegas. "Dan kau juga harus menanggung biaya makannya. Tadi dia baru saja memesan tiga porsi Krabby Patty khayalan, jadi kau berhutang padaku tiga Krabby Patty asli sebagai biaya kompensasi energinya."
Squidward, yang kebetulan sedang menyapu teras rumahnya, tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut campur. "Patrick, kau hanya duduk sendirian di depan kursi kosong! Kau memeras Spongebob dengan menjual udara!"
Patrick berdiri dan menatap Squidward dengan tatapan menghakimi. "Udara? Squidward, kau sungguh tidak punya perasaan. Barnaby baru saja bilang kalau warna bajumu hari ini sangat membosankan, tapi dia terlalu sopan untuk mengatakannya langsung padamu."
Squidward menggeram. "Oh ya? Kalau begitu suruh Barnaby-mu itu memindahkan tumpukan debu ini dari terasku!"
Patrick membisikkan sesuatu ke arah kursi kosong, lalu menoleh kembali ke Squidward. "Maaf, Squidward. Barnaby bilang dia adalah teman khayalan, bukan pembantu khayalan. Dia punya serikat pekerja dan mereka sedang mogok kerja untuk urusan kebersihan."
Spongebob yang merasa kasihan pada Barnaby akhirnya memberikan selembar uang dolar (yang sebenarnya adalah kertas pembungkus cokelat) kepada Patrick. "Aku ingin menyewa Barnaby selama satu jam, Patrick! Aku ingin dia menemaniku bermain petak umpet."
Patrick menerima uang itu dan menyuruh Spongebob membawa kursi kosong tersebut ke halamannya. "Silakan, Spongebob. Tapi ingat, jangan sampai dia kepanasan. Dia sangat sensitif terhadap sinar matahari langsung."
Satu jam kemudian, Spongebob kembali dengan wajah lelah. "Patrick, aku tidak bisa menemukan Barnaby! Aku sudah berhitung sampai seratus, tapi dia tetap tidak muncul saat aku mencarinya!"
Patrick manggut-manggut sambil mengunyah permen karet. "Tentu saja tidak, Spongebob. Dia teman khayalan. Dia bersembunyi di tempat khayalan yang hanya bisa ditemukan oleh pencari khayalan."
"Lalu di mana dia sekarang?" tanya Spongebob cemas.
Patrick menatap jam tangannya yang hanya digambar dengan spidol. "Oh, waktunya sudah habis. Barnaby baru saja resign karena dia merasa pekerjaan ini terlalu nyata baginya. Dia sekarang sedang dalam perjalanan pulang."
Patrick kemudian menagih biaya tambahan. "Karena dia menghilang saat jam kerja, kau dikenakan denda Kehilangan Teman sebesar satu buah es krim."
Spongebob dengan patuh memberikan es krimnya. "Yah, setidaknya aku sempat punya teman baru selama satu jam, meski aku tidak tahu dia ada di mana."
Squidward hanya bisa membenturkan kepalanya ke pintu rumahnya sendiri sambil bergumam, "Aku ingin menyewa sebuah Ketenangan Khayalan yang bisa membuat mereka berdua menghilang secara nyata."
Teman terbaik adalah mereka yang tidak pernah mendebatmu, tidak pernah menghabiskan makananmu, dan yang paling penting, tidak pernah ada di sana saat kau butuh bantuan. Karena dengan begitu, kau belajar untuk mandiri secara imajiner.