Bab 32
Bank Pasir Patrick
Pagi itu, Patrick berdiri di depan tumpukan pasir yang sedikit lebih tinggi dari biasanya. Di atas gundukan itu, tertancap sebilah kayu berpaku dengan tulisan cakar ayam: BANG PASIR PATRIK - AMAN, TERPERCAYA, BANYAK DEBUNYA.
Spongebob yang sedang dalam perjalanan menuju Krusty Krab berhenti dengan rasa ingin tahu yang besar. "Wah, Patrick! Kau membuka bank? Apa kau menyimpan mutiara atau uang dolar di sini?"
Patrick memperbaiki dasi imajiner di lehernya dan berdeham formal. "Bukan, Spongebob. Itu terlalu kuno. Aku membuka Bank Pasir. Di sini, warga Bikini Bottom bisa menabung pasir mereka agar tidak dicuri oleh angin atau kaki-kaki yang lewat."
Spongebob berkedip bingung. "Tapi Patrick... seluruh kota kita ini terbuat dari pasir. Kenapa orang harus menabung pasir di dalam tumpukan pasirmu?"
Patrick menggelengkan kepala dengan nada prihatin. "Itulah masalahmu, Spongebob. Kau melihat pasir sebagai komoditas, tapi aku melihatnya sebagai aset masa depan. Bayangkan jika suatu hari nanti laut ini kehabisan pasir? Ke mana kau akan pergi? Ke batu? Itu keras, Spongebob! Sangat keras!"
Tiba-tiba, Squidward lewat dengan wajah masam seperti biasa. Patrick langsung memanggilnya. "Hei, Tuan Squidward! Apakah Anda ingin mengamankan kekayaan Anda? Investasikan satu ember pasir Anda di sini, dan dalam sepuluh tahun, Anda akan tetap memiliki satu ember pasir yang sama!"
Squidward berhenti dan menatap gundukan pasir Patrick. "Jadi, kau ingin aku memberimu pasir, yang bisa kuambil secara gratis di mana saja, agar kau bisa menyimpannya di atas tanah milikmu sendiri?"
"Tepat sekali! Dan aku mengenakan biaya administrasi sebesar satu potong cokelat per hari," jawab Patrick bangga.
Squidward mendengus. "Ini adalah ide bisnis paling bodoh yang pernah kudengar. Aku pergi."
Namun, karena Patrick terus memaksa, Spongebob yang merasa tidak enak hati akhirnya memutuskan untuk menjadi nasabah pertama. "Baiklah Patrick, aku akan menabung satu genggam pasir keberuntunganku di sini." Spongebob meletakkan segenggam pasir di atas gundukan Patrick.
"Terima kasih atas kepercayaan Anda, Tuan Squarepants," kata Patrick sambil mencatat di atas sehelai daun rumput laut.
Dua menit kemudian, Spongebob berkata, "Oh, Patrick, aku berubah pikiran. Aku butuh pasir itu kembali untuk mengisi kotak pasir Gary."
Wajah Patrick tiba-tiba berubah menjadi sangat kaku dan dingin. "Maaf, Tuan. Anda tidak bisa menarik simpanan Anda sekarang."
"Kenapa tidak?" tanya Spongebob kaget.
Patrick menunjuk ke gundukan pasirnya yang luas. "Lihat itu! Pasir Anda sudah bercampur dengan pasir-pasir lainnya! Mereka sudah bersosialisasi, menjalin pertemanan, dan mungkin sudah menikah dengan butiran pasir milikku. Jika aku mengambil satu genggam sekarang, aku bisa saja memisahkan sebuah keluarga pasir yang bahagia! Apa kau sekejam itu, Spongebob?"
Spongebob merasa bersalah. "Oh, tidak! Aku tidak mau menghancurkan pernikahan pasir!"
"Jadi," lanjut Patrick, "tabungan Anda sekarang menjadi milik permanen bank ini sampai saya bisa melakukan tes DNA pada setiap butir pasir untuk memastikan mana yang milik Anda."
Tuan Krabs yang kebetulan lewat dan mendengar kata Bank serta Milik Permanen, langsung berhenti. "Patrick! Itu adalah sistem perbankan paling jenius yang pernah ada! Kau mengambil uang orang dan tidak pernah mengembalikannya karena alasan emosional? Bisakah aku menjadi manajermu?"
Patrick menatap Tuan Krabs dengan curiga. "Apakah kau punya pasir untuk didepositkan, Tuan?"
"Tentu saja tidak! Aku punya uang!" seru Tuan Krabs.
Patrick membuang muka. "Maaf, Tuan Krabs. Bank ini terlalu berkelas untuk benda kertas kotor seperti itu. Kami hanya menerima tabungan yang bisa membuat kita kelilipan."
Tuan Krabs pergi dengan kecewa, sementara Patrick kembali duduk di depan gundukannya, menjaga aset yang sebenarnya adalah bagian dari lantai samudera yang tidak akan pernah pindah ke mana-mana.
Investasi terbaik adalah sesuatu yang tidak bisa kau ambil kembali, karena dengan begitu, kau tidak akan pernah merasa kehilangan, karena kau memang sudah tidak memilikinya sejak awal.