Bab 6
Penguntit Hitam di Bawah Kaki
Kantor Polisi Bikini Bottom sedang tenang sampai Patrick Star mendobrak pintu depan dengan napas terengah-engah. Wajahnya pucat pasi, dan dia terus menoleh ke belakang dengan tatapan horor.
"Tolong! Polisi! Aku sedang diikuti!" teriak Patrick sambil memeluk meja resepsionis.
Petugas polisi ikan menatapnya dengan bosan. "Tenanglah, Patrick. Siapa yang mengikutimu? Apakah geng hiu? Atau Tuan Krabs yang menagih utang?"
"Bukan!" bisik Patrick dengan suara gemetar. "Dia... dia sangat tipis. Dia tidak bersuara. Dia meniru setiap gerakanku, dan dia selalu berada tepat di bawahku! Ke mana pun aku lari, dia selalu ada di sana, menunggu saat yang tepat untuk menyergap!"
Polisi itu melihat ke lantai. "Patrick, itu bayanganmu."
Patrick membelalakkan mata. "Bayangan?! Jadi kau sudah tahu namanya? Berarti ini adalah sindikat pengintai yang terorganisir! Dia tidak punya wajah, Petugas! Dia hanya siluet hitam yang mengerikan. Aku ingin dia ditangkap karena pelanggaran privasi tingkat tinggi!"
Spongebob masuk ke kantor polisi dengan wajah khawatir. "Patrick! Ada apa? Kenapa kau lari dariku?"
"Spongebob, jangan mendekat!" teriak Patrick. "Kau juga diikuti! Lihat di bawahmu! Ada sosok gelap berbentuk kotak yang menempel di kakimu! Mereka sudah mengepung kita!"
Spongebob melihat ke bawah, lalu tertawa kecil. "Patrick, ini normal. Semua orang punya bayangan. Cahaya matahari mengenai tubuh kita, dan karena tubuh kita padat, cahaya tidak bisa lewat, maka terciptalah bayangan."
Patrick menggelengkan kepala dengan keras. "Itu yang mereka ingin kau percayai, Spongebob! Itu adalah propaganda cahaya! Kenapa dia harus bergerak saat aku bergerak? Kenapa dia tidak diam saja di sana? Dia mengintai, Spongebob! Dia ingin mencuri identitas merah mudaku!"
Squidward, yang kebetulan sedang berada di sana untuk melaporkan gangguan suara (akibat teriakan Patrick), hanya bisa menatap datar. "Patrick, bayangan itu menirumu karena dia adalah proyeksi tubuhmu. Dia tidak punya otak, tidak punya niat, dan tidak punya kehidupan."
"Oh, benarkah, Squidward?" tantang Patrick. Dia tiba-tiba melakukan gerakan karate mendadak. Bayangannya melakukan hal yang sama. "Lihat itu! Dia bahkan sudah tahu gerakanku sebelum aku menyelesaikannya! Dia bisa membaca pikiranku!"
Patrick kemudian menunjuk bayangan Squidward. "Dan lihat punyamu, Squidward! Dia terlihat jauh lebih depresi daripada kau. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu yang gelap... secara harfiah!"
Karena Patrick terus berteriak PENCULIKAN IDENTITAS!, polisi terpaksa melayani laporannya agar dia diam. Mereka membawa Patrick ke ruang interogasi yang gelap. Begitu lampu dimatikan, bayangan Patrick menghilang.
"DIA HILANG!" teriak Patrick senang. "Petugas, kau jenius! Kau baru saja mengusirnya!"
"Tidak, Patrick," kata polisi itu sambil menyalakan lampu lagi. "Dia kembali."
Patrick melompat ke atas meja. "DIA KEMBALI DENGAN SENJATA! Lihat tangannya!" (Padahal itu hanya bayangan tangan Patrick yang memegang donat).
Akhirnya, Patrick memutuskan untuk mengambil tindakan sendiri. Dia mulai mencoba menjebak bayangannya dengan menaburkan tepung di lantai, lalu melompat ke tempat gelap. Namun setiap kali dia keluar ke tempat terang, bayangannya muncul lagi.
"Spongebob," bisik Patrick saat mereka keluar dari kantor polisi. "Satu-satunya cara agar kita aman dari pengintai ini adalah dengan hidup di kegelapan total selamanya. Jika tidak ada cahaya, agen hitam itu tidak bisa melacak kita."
Spongebob berpikir sejenak. "Tapi Patrick, kalau gelap total, kita tidak bisa melihat satu sama lain."
"Itu harga yang harus dibayar untuk keamanan, Spongebob," ujar Patrick sambil memakai penutup mata. "Jika aku tidak bisa melihat diriku sendiri, maka penguntit itu juga tidak bisa melihatku. Logika pertahanan diri!"
Patrick pun mulai berjalan pulang sambil menabrak tiang lampu, tong sampah, dan akhirnya jatuh ke dalam lubang selokan. Dari dalam lubang yang gelap, suaranya terdengar menggema:
"Aku aman sekarang, Spongebob! Di sini sangat gelap, si hitam itu pasti sudah tersesat!"
Squidward yang berjalan di atas selokan itu hanya menghela napas. "Setidaknya sekarang dia adalah masalah bagi tikus selokan, bukan masalahku."
Patrick berhasil mengubah fenomena fisika sederhana menjadi konspirasi spionase yang membuatnya berakhir di selokan.