Bab 5
Api Basah dan Skandal Bensin
Sore itu di depan Krusty Krab, Spongebob sedang asyik memanggang patty di atas panggangan yang menyala terang di sebuah stand didepan restoran karena Tuan Krabs merasa jika mereka memasak patty di luar maka aromanya akan menyebar dan menarik banyak pelanggan. Tiba-tiba, Patrick datang dengan mengenakan jas hujan plastik (yang entah bagaimana fungsinya di bawah air) dan membawa sebuah megafon besar.
"BERHENTI! JANGAN NYALAKAN ITU!" teriak Patrick hingga spatula Spongebob hampir terjatuh.
Spongebob berkedip bingung. "Ada apa, Patrick? Aku hanya sedang membuat makan malam untuk warga yang lapar."
Patrick menunjuk api di panggangan dengan gemetar. "Spongebob, kita berada di dalam air. Kau tahu apa yang terjadi jika api bertemu air? Mereka seharusnya bertengkar dan air menang! Tapi lihat api itu... dia menari-nari seolah-olah dia sedang di daratan!"
Squidward keluar dari pintu depan, menyilangkan tangan, dan menatap mereka dengan tatapan datar yang bisa membelah atom. "Patrick, itu hanya kartun... maksudku, itu hanya fisika laut yang tidak perlu kau pikirkan. Masuklah dan pesan sesuatu atau pergilah ke batu besarmu."
Tapi Patrick tidak bisa dihentikan. Dia naik ke atas tong sampah dan mulai berpidato pada warga yang lewat.
"Saudara-saudaraku! Kita telah ditipu oleh industri energi!" seru Patrick. "Jika api bisa menyala dengan riang gembira di bawah air, itu artinya satu hal: Air ini sebenarnya adalah bensin! Kita selama ini berenang di dalam bahan bakar cair!"
Warga Bikini Bottom mulai panik. Mereka saling lirik dan mulai merasa "mudah terbakar".
"Dan jika air adalah bensin," lanjut Patrick dengan logika yang makin melintir, "Kenapa kalian masih pergi ke pom bensin dan membayar mahal untuk mengisi kendaraan kalian? Ambil saja gayung, ambil air laut di depan rumahmu, dan masukkan ke tangki mobilmu! Perusahaan bensin hanyalah menjual air laut yang diberi pewarna!"
Dalam hitungan menit, antrean di pom bensin Bikini Bottom kosong melompong. Warga mulai menyiduk air laut di sekitar mereka dan memasukkannya ke dalam tangki perahu motor mereka. Tentu saja, mesin-mesin itu langsung mogok dan meledak kecil karena kemasukan air (yang sebenarnya memang air).
Spongebob mencoba menengahi dengan "kenormalan" yang tersisa. "Patrick, tunggu! Api ini menyala karena... karena semangat memasakku yang membara! Dan air laut ini bukan bensin, kalau ini bensin, mata kita akan perih setiap kali berkedip!"
Patrick menatap Spongebob dengan curiga. "Mungkin mata kita sudah terbiasa dengan rasa perih, Spongebob. Kita adalah bangsa yang tabah."
Squidward mendengus. "Patrick, jika air ini bensin, maka saat kau menyalakan korek api untuk membakar sampahmu tadi pagi, seluruh kota ini seharusnya sudah meledak dan kita semua sudah menjadi cumi-cumi panggang."
Patrick terdiam. Dia melihat korek api di tangannya, lalu melihat ke sekeliling samudera yang luas.
"Oh... kau benar, Squidward," gumam Patrick. "Berarti korek api ini yang rusak. Dia tidak becus membakar bensin raksasa ini."
Lalu, dengan santainya, Patrick membuang korek apinya ke dalam tong bensin beneran milik seorang warga yang lewat. BOOM! Terjadi ledakan kecil yang hanya menghanguskan bulu mata Patrick.
"Lihat!" seru Patrick sambil menunjuk mukanya yang gosong. "Aku benar! Air ini baru saja marah padaku! Jangan beli bensin lagi, warga! Cukup buat airnya marah, maka mobil kalian akan jalan karena emosi!"
Warga bersorak setuju dan mulai memaki-maki pemilik pom bensin. Spongebob hanya bisa mematikan panggangannya dengan sedih, sementara Squidward masuk kembali ke dalam, mengunci pintu, dan memasang papan tulisan: "Tutup Hingga Logika Kembali Ditemukan."
Benar-benar sebuah revolusi energi yang sangat salah sasaran. Patrick berhasil membuat warga percaya bahwa emosi air adalah bahan bakar masa depan.