Bab 4
Lingkaran Setan Krabby Patty
Tuan Krabs sedang berada di kantornya, menghitung tumpukan koin dengan penuh cinta, saat Patrick Star tiba-tiba mendobrak pintu. Wajah Patrick tidak tampak lapar, melainkan tampak... prihatin.
"Tuan Krabs," kata Patrick sambil melipat tangan di depan dadanya yang merah muda. "Aku baru saja menyadari bahwa kau adalah orang paling malang di lautan ini."
Tuan Krabs tertawa terbahak-bahak hingga cangkangnya bergetar. "Malang? Aku punya uang lebih banyak daripada jumlah gigi di mulutmu, Patrick! Aku kaya!"
Patrick menggelengkan kepala pelan. "Tapi untuk apa uang itu, Tuan Krabs?"
"Untuk... ya untuk menjadi kaya! Dan tentu saja, untuk membeli makanan agar aku tidak mati kelaparan!" jawab Tuan Krabs bangga.
Di sinilah Patrick mengeluarkan jurus logikanya. "Tapi Tuan Krabs, kau menjual makanan (Krabby Patty) untuk mendapatkan uang, agar kau bisa menggunakan uang itu untuk membeli makanan. Kenapa kau tidak langsung saja MEMAKAN Krabby Patty-mu tanpa harus repot-repot menukarnya dengan kertas hijau yang kotor itu?"
Tuan Krabs tertegun. Capitnya yang memegang koin emas mendadak kaku. "Eh... tapi... kalau aku memakannya sendiri, aku tidak dapat untung!"
"Tapi untung itu untuk beli makan, kan?" kejar Patrick. "Jika kau punya sepuluh burger dan kau menjualnya, kau dapat uang. Lalu kau pergi ke toko roti untuk beli roti. Bukankah lebih cepat kalau kau makan saja sepuluh burger itu di tempat? Kau hemat waktu, hemat tenaga, dan kau tidak perlu bersentuhan dengan uang yang sudah dipegang oleh ribuan tangan kotor."
Spongebob, yang sedang mengintip dari jendela dapur, matanya berbinar. "Patrick benar! Tuan Krabs, selama ini kita melakukan putaran balik yang sangat jauh hanya untuk sampai ke perut kita sendiri!"
Tuan Krabs mulai berkeringat. Kalkulator di otaknya mulai mengalami error. "Tapi... sistem ekonomi... inflasi... modal produksi..."
"Semua itu hanya penghalang antara mulutmu dan kelezatan, Tuan Krabs," potong Patrick dengan nada bijak yang dibuat-buat. "Kau adalah tawanan dari logikamu sendiri. Kau bekerja untuk makan, tapi kau menjual makananmu agar bisa bekerja. Kau adalah anjing yang mengejar ekornya sendiri, tapi ekormu terbuat dari saus rahasia."
Doktrin Patrick mulai menyebar ke pelanggan di ruang makan. Mereka berhenti makan.
"Tunggu dulu," teriak salah satu ikan pelanggan. "Kenapa aku harus bekerja di kantor selama delapan jam untuk mendapatkan gaji, lalu memberikan gaji itu pada Tuan Krabs demi satu burger? Seharusnya aku langsung saja bekerja di dapur ini selama sepuluh menit dan memakan burgernya!"
Dalam sekejap, Krusty Krab menjadi kacau. Para pelanggan mulai menyerbu dapur, bukan untuk merampok uang, tapi untuk memotong jalur birokrasi perut. Mereka merasa sistem jual-beli adalah sebuah konspirasi yang melelahkan.
Tuan Krabs melompat keluar dari kantornya, berdiri di tengah restoran yang riuh, lalu memeluk mesin kasirnya yang kini seakan tidak berguna. "Tapi... kalau semua orang langsung makan tanpa membayar, bagaimana aku bisa jadi kaya?!"
Patrick menepuk bahu Tuan Krabs. "Kekayaan sejati adalah perut yang kenyang tanpa perlu menghitung kembalian, Tuan Krabs. Lihat aku, aku tidak punya uang, aku tidak punya pekerjaan, tapi apakah aku terlihat lapar?"
Kruyuuukk... Perut Patrick berbunyi sangat keras.
"Oh, sepertinya aku lapar," kata Patrick datar. Dia kemudian mengambil satu Krabby Patty dari tangan pelanggan, memakannya dalam satu lahapan, lalu pergi melenggang keluar tanpa membayar.
Squidward, yang sedari tadi hanya membaca koran di meja kasir, bergumam, "Akhirnya, seseorang berhasil membubarkan sistem kapitalisme ini hanya dengan bermodalkan kebodohan murni."
Tuan Krabs jatuh terduduk di lantai, menatap uang satu dolarnya yang kini terasa seperti potongan kertas yang tidak punya arti. Dia mulai mempertanyakan seluruh eksistensi hidupnya sebagai pengusaha.