Bab 3
Strategi Injak-Menginjak

Di depan rumah nanas Spongebob, sebuah mesin penjual otomatis raksasa baru saja dipasang. Di atasnya terpampang logo biru-merah yang mencolok: PEPSI. Di sampingnya, berdiri sebuah mesin penjual COCA-COLA yang tampak lebih tua.

Patrick dan Spongebob sedang duduk santai sambil memperhatikan seorang anak ikan kecil yang mendekati mesin-mesin itu. Anak itu memasukkan koin, membeli satu kaleng Coca-Cola, lalu meletakkannya di lantai. Dia memasukkan koin lagi, membeli Coca-Cola kedua, dan meletakkannya tepat di samping yang pertama.

Lalu, anak itu berdiri di atas kedua kaleng Coca-Cola tersebut agar tubuhnya cukup tinggi untuk menekan tombol PEPSI. Begitu kaleng Pepsi keluar, dia mengambilnya dan pergi begitu saja, meninggalkan dua kaleng Coca-Cola yang tak tersentuh di lantai.

Spongebob matanya berkaca-kaca melihat kejadian itu. "Oh, Patrick, lihatlah dedikasi anak itu! Dia begitu haus akan kesegaran Pepsi sampai dia rela mengeluarkan uang ekstra hanya untuk sebuah pijakan. Itu adalah bukti bahwa cinta pada rasa tidak mengenal harga!"

Patrick mendengus, sebuah suara yang terdengar seperti ban bocor. "Spongebob, kau terlalu terjebak dalam drama emosional sebuah kaleng soda. Kau tidak melihat gambaran besarnya."

"Maksudmu?" tanya Spongebob bingung.

"Lihat mesin Coca-Cola itu," tunjuk Patrick dengan wajah serius. "Mesin itu baru saja menjual dua kaleng. Sementara mesin Pepsi hanya menjual satu. Dalam logika bisnis, Coca-Cola adalah pemenangnya!"

Spongebob mengerutkan dahi. "Tapi Patrick, anak itu bahkan tidak meminumnya! Dia hanya menginjaknya! Dia lebih memilih Pepsi!"

"Itulah masalahmu, Spongebob," ujar Patrick sambil bangkit berdiri. "Kau peduli pada siapa yang diminum. Padahal dalam hidup ini, yang penting bukan siapa yang masuk ke perut, tapi siapa yang masuk ke mesin kasir! Anak itu telah melakukan kesalahan finansial terbesar dalam sejarah perikanan."

Patrick kemudian berjalan ke arah mesin-mesin itu dan mulai berpidato pada warga yang lewat.

"Saudara-saudaraku!" seru Patrick. "Jangan mau jadi seperti anak tadi! Jika kau butuh Pepsi, jangan gunakan Coca-Cola sebagai pijakan! Belilah dua Pepsi untuk diinjak agar kau bisa membeli satu Coca-Cola! Dengan begitu, perusahaan yang kau sukai akan mendapatkan uang lebih banyak dari kegagalanmu!"

Squidward, yang kebetulan sedang lewat membawa belanjaan, berhenti sejenak. "Patrick, kau benar-benar tidak mengerti poin dari tindakan anak itu, ya? Dia menyindir bahwa Coca-Cola hanyalah alat untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik."

Patrick menatap Squidward dengan pandangan meremehkan. "Squidward, jika aku adalah seorang penjual, aku lebih suka kau membeliku untuk kau jadikan keset kaki daripada kau mencintaiku tapi tidak pernah membeliku. Penjualan adalah cinta dalam bentuk angka!"

Tuan Krabs tiba-tiba muncul dari balik semak-semak (dia selalu ada di mana pun ketika ada pembicaraan tentang uang). "Patrick! Kau jenius! Jadi maksudmu, aku harus membuat Krabby Patty yang sangat keras dan tidak enak agar orang-orang harus membeli dua burger untuk dijadikan kursi agar mereka bisa duduk dan memesan satu burger yang enak?"

"Tepat, Tuan Krabs!" seru Patrick. "Kita sebut itu 'Strategi Pijakan Ekonomi'. Jual barang yang tidak berguna sebanyak mungkin agar orang punya alasan untuk membeli barang yang mereka inginkan!"

Dalam sekejap, Krusty Krab berubah menjadi tempat yang aneh. Tuan Krabs mulai menjual "Burger Lantai" yang tidak bisa dimakan seharga 2 dolar, hanya agar pelanggan bisa menggunakannya sebagai alas duduk untuk memesan Krabby Patty asli seharga 5 dolar.

Warga Bikini Bottom yang terhasut logika Patrick mulai membeli barang secara berlipat-lipat hanya untuk tujuan yang tidak masuk akal. Mereka membeli kulkas hanya untuk dijadikan meja tempat menaruh es batu. Mereka membeli mobil hanya untuk dijadikan tempat berteduh saat menunggu bus.

Spongebob hanya bisa menatap kaleng Coca-Cola yang ditinggalkan di lantai tadi. "Tapi Patrick... bukankah ini membuang-buang sumber daya?"

Patrick mengambil salah satu kaleng Coca-Cola tersebut, membukanya, dan menyiramkannya ke tanah. "Ini bukan membuang, Spongebob. Ini namanya memberi makan bumi. Bumi tidak butuh rasa, bumi hanya butuh angka penjualan yang meningkat."

Squidward hanya menggelengkan kepala. "Aku menyerah. Di dunia di mana orang lebih bangga menjual pijakan daripada minuman, aku lebih memilih untuk menjadi air mineral yang tidak punya label."

Patrick berhasil mengubah sebuah sindiran menjadi strategi kapitalisme liar yang membuat Tuan Krabs semakin kaya dan warga semakin bingung.