Bab 2
Kebun Dolar di Krusty Krab

Pagi itu di Krusty Krab. Cahaya matahari pagi menembus air laut yang jernih, menciptakan pola-pola cahaya menenangkan di atas lantai kayu restoran, suasana sangat ramai dan tenang seperti hari-hari biasa, sampai Patrick Star masuk dengan membawa sebuah pot bunga besar berisi tanah dan satu lembar uang satu dolar yang sudah lecek.

Tuan Krabs, yang indra penciumannya bisa mendeteksi aroma uang dari jarak lima mil, bahkan jika uang itu terkubur di dasar palung laut sekalipun. Ia langsung melompat dari meja kantornya menuju kasir. "Patrick! Apa yang kau lakukan dengan uang malang itu? Dia terlihat ketakutan! Dia gemetar di tanganmu yang besar itu!"

Patrick menatap Tuan Krabs dengan tatapan penuh belas kasih. "Dia tidak ketakutan, Tuan Krabs. Dia hanya... lapar. Dia butuh nutrisi."

Spongebob, yang sedang menyeka meja dengan antusiasme 200%, ikut mendekat. "Nutrisi? Patrick, uang itu benda mati. Dia tidak butuh makan, dia hanya butuh dibelanjakan untuk Krabby Patty yang lezat, hangat, dan penuh lemak!"

Patrick menggelengkan kepalanya perlahan, seolah-olah Spongebob dan Tuan Krabs adalah murid yang gagal ujian matematika dasar. "Spongebob, kau bilang uang kertas terbuat dari apa?"

"Eh... serat kayu?" jawab Spongebob ragu.

"TEPAT!" seru Patrick hingga lemak di perutnya bergetar. "Dan kayu berasal dari pohon. Pohon berasal dari bibit. Jadi, jika uang adalah bagian dari pohon, maka uang adalah makhluk hidup yang sedang mengalami krisis identitas karena dipaksa tinggal di dompet yang gelap dan pengap!"

Tuan Krabs mulai berkeringat dingin. Capitnya gemetar hebat membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya. "Patrick, nak... tolong letakkan uang itu di kasirku sebelum kau melakukan sesuatu yang akan membuat kita semua berakhir di rumah sakit jiwa.

Tapi terlambat. Patrick sudah menanam uang dolar itu ke dalam tanah, lalu menyiramnya dengan satu galon air. "Tenanglah, temanku. Sebentar lagi kau akan tumbuh menjadi pohon uang yang rimbun. Kita tidak perlu bekerja lagi, Tuan Krabs. Kita hanya perlu... berkebun."

Logika Patrick mulai meracuni pikiran warga yang sedang makan. Mereka mulai berpikir: Kenapa harus bekerja keras jika kita bisa menanam modal secara harfiah?

Dalam sekejap, Krusty Krab berubah menjadi pembibitan raksasa. Warga Bikini Bottom datang membawa koin dan uang kertas, lalu menguburnya di lantai restoran yang penuh tanah. Tuan Krabs meraung histeris melihat uang-uang itu dikubur hidup-hidup.

"BERHENTI! KALIAN MENGUBUR KEUNTUNGANKU!" teriak Tuan Krabs sambil mencoba menggali tanah dengan capitnya.

"Jangan, Tuan Krabs!" cegah Patrick dengan tegas. "Kau akan merusak akarnya! Lihat, dolar ini sudah mulai bertunas!" (Padahal itu hanya sepotong selada yang jatuh).

Kekacauan mencapai puncaknya saat Patrick memutuskan bahwa uang butuh sinar matahari. Dia mulai menjebol atap Krusty Krab agar cahaya matahari bisa masuk ke kebun uang mereka. Squidward, yang sedari tadi hanya menonton dari balik kasir, menghela napas panjang sambil memakai kacamata hitam.

"Selamat, Tuan Krabs," sindir Squidward dengan nada datar. "Kau sekarang adalah pemilik kebun raya paling mahal dan paling tidak berguna di bawah laut."

Di penghujung hari, uang-uang itu bukannya tumbuh menjadi pohon yang rimbun, malah hancur menjadi bubur kertas karena basah kuyup dan tertimbun tanah. Tuan Krabs jatuh pingsan di atas tumpukan lumpur dolar yang kini tidak bernilai sama sekali.

Dengan perasaan bangga yang luar biasa, Patrick berjalan pulang seolah-olah ia baru saja menyelamatkan ekonomi dunia.

"Spongebob," kata Patrick saat mereka berjalan pulang. "Besok kita akan menanam kartu kredit. Aku ingin tahu apakah mereka akan tumbuh menjadi pohon plastik atau pohon utang."

Spongebob hanya tersenyum kaku, sementara di belakang mereka, suara tangisan pilu Tuan Krabs memecah kesunyian malam, terdengar sampai ke permukaan laut dan menakuti para pelaut yang lewat.