Bab 29
Komunikasi dengan Batu
Pagi itu, Spongebob melihat pemandangan yang menyedihkan di depan rumah batu Patrick. Patrick sedang duduk bersila, menatap pintu batunya dengan wajah yang hancur karena sedih. Di tangannya ada sebuah bunga karang kecil dan sekotak cokelat yang sudah agak meleleh.
"Patrick? Apa kau sedang menunggu tamu penting?" tanya Spongebob sambil mendekat.
Patrick menghela napas panjang, suaranya parau. "Tidak, Spongebob. Aku sedang mencoba meminta maaf. Tapi dia... dia sama sekali tidak mau bicara padaku."
Spongebob melihat ke sekeliling. "Siapa? Gary? Cumi-cumi pengantar koran?"
"Batu ini, Spongebob!" Patrick menepuk permukaan batunya yang keras. "Dia sedang marah. Sejak tadi malam, dia tidak mau terbuka padaku. Biasanya dia langsung terangkat kalau aku datang, tapi sekarang? Dia diam seribu bahasa!"
Spongebob menggaruk kepalanya. "Mungkin engselnya berkarat? Atau kau lupa cara mengangkatnya?"
"Jangan menghina perasaannya!" bentak Patrick pelan. "Aku tahu dia marah karena kemarin aku tidak sengaja mendudukinya terlalu keras saat aku sedang makan es krim. Dia merasa aku hanya menganggapnya sebagai furnitur, bukan sebagai sahabat."
Tiba-tiba, Squidward lewat sambil membawa kantong sampah. Melihat drama itu, dia tidak tahan untuk tidak berkomentar. "Patrick, rumahmu itu benda mati! Batu tidak punya perasaan, tidak punya telinga, dan yang paling penting, dia tidak bisa marah karena dia tidak punya otak!"
Patrick berdiri dan menatap Squidward dengan penuh simpati. "Oh, Squidward yang malang. Pantas saja rumah patungmu selalu terlihat cemberut. Itu karena kau tidak pernah mengajaknya bicara dari hati ke hati."
Squidward memutar matanya. "Aku tidak bicara dengan bangunan! Sekarang minggir, aku mau lewat!"
Patrick mengabaikan Squidward dan kembali berlutut di depan batunya. "Spongebob, kita butuh ahli bahasa. Kita butuh seseorang yang mengerti dialek mineral. Kita butuh... Penerjemah Bahasa Batu!"
Patrick kemudian berlari ke arah karang dan kembali dengan membawa sebuah kerikil kecil yang dia tempelkan ke telinganya. "Hmm... ya... oh begitu? Benarkah?" Patrick mengangguk-angguk serius pada kerikil itu.
"Apa katanya, Patrick?" tanya Spongebob antusias.
"Kerikil ini bilang, batuku merasa kesepian karena aku terlalu sering membicarakan tentang pasir di depannya. Dia merasa cemburu pada pasir yang lebih halus dan lebih banyak," lapor Patrick dengan wajah serius.
Patrick langsung memeluk batunya erat-erat. "Maafkan aku, Batu! Aku tidak bermaksud memuji pasir! Pasir itu kasar dan masuk ke dalam celana dalamku, tapi kau... kau keras dan dingin, persis seperti tipe idamanku!"
Tepat saat itu, seekor serangga laut merayap masuk ke bawah celah batu Patrick dan entah bagaimana, gerakan itu memicu mekanisme keseimbangan batu tersebut sehingga batunya terangkat sedikit ke atas.
"LIHAT!" teriak Patrick kegirangan. "Dia memaafkanku! Dia tersenyum padaku!"
Patrick langsung melompat masuk ke bawah batunya, tapi karena terlalu bersemangat, batunya langsung menutup kembali dengan keras, tepat di atas pantat Patrick yang masih tertinggal di luar.
"ADUHH! Spongebob! Sepertinya dia masih sedikit marah!" teriak Patrick dari bawah batu.
Spongebob tersenyum lega. "Setidaknya kalian sudah mulai berkomunikasi lagi, Patrick!"
Squidward, yang melihat pantat Patrick terjepit batu, hanya bergumam, "Jika batu itu benar-benar punya otak, dia pasti sudah mengunci Patrick di bawah sana selamanya."
Jika benda-benda di sekitarmu diam saja, itu bukan karena mereka mati, tapi karena kau terlalu banyak bicara tentang diri sendiri. Cobalah minta maaf pada meja atau kursimu sesekali.