Bab 26
Teori Gravitasi Sandal

Pagi itu di depan rumah nanas, Spongebob menemukan Patrick sedang berdiri kaku di atas batu besarnya. Patrick tidak bergerak sedikit pun, matanya menatap tajam ke arah kakinya yang telanjang (meski sebenarnya Patrick tidak pernah pakai sandal atau alas kaki apapun). Yang aneh adalah, sepasang sandal hijaunya diletakkan dengan rapi di atas kepalanya, bukan di kakinya.

"Patrick? Apa kau sedang mencoba menjadi rak sepatu hidup?" tanya Spongebob heran.

Patrick tidak menoleh. "Ssttt... Spongebob. Jangan bicara terlalu keras. Kau bisa mengganggu keseimbangan dunia. Aku sedang melakukan eksperimen sains tingkat tinggi."

Spongebob mendekat, matanya berbinar. "Sains? Aku suka sains! Apa yang kau temukan?"

"Gravitasi, Spongebob," bisik Patrick dengan nada misterius. "Selama ini kita dibohongi oleh alas kaki. Kau tahu kenapa kita tetap berpijak di tanah dan tidak melayang ke langit? Itu karena sandal!"

Spongebob menggaruk kepalanya yang berlubang-lubang. "Bukannya itu karena daya tarik inti bumi, Patrick?"

Patrick tertawa meremehkan. "Hoho, itulah yang diinginkan oleh para pembuat sepatu agar kau terus membeli produk mereka! Dengar, Spongebob. Setiap kali kita memakai sandal, berat sandal itu menekan kita ke bawah. Itulah yang membuat kita menempel di tanah. Tapi, jika kita melepasnya..." Patrick menelan ludah, "...kita akan kehilangan beban dan mulai terbang ke atas menuju matahari."

"Tapi Patrick, kau sekarang sedang tidak pakai sandal di kaki, dan kau masih tetap di atas batu," ujar Spongebob jujur.

Patrick terdiam sejenak, melihat kakinya yang gemuk, lalu melihat sandal di atas kepalanya. "Itu karena aku menaruh sandalnya di kepala, Spongebob! Bebannya sekarang menekan kepalaku ke bawah, jadi seluruh tubuhku tetap tertekan ke batu ini. Ini adalah pengamanan darurat!"

Tepat saat itu, Squidward berjalan lewat sambil membawa koran pagi. Dia berhenti sebentar, menatap Patrick yang memakai sandal di kepala, lalu menghela napas panjang. "Patrick, kau bodoh sekali. Gravitasi tidak ada hubungannya dengan apa yang kau pakai di kaki atau kepala."

Patrick menyipitkan mata. "Oh ya, Squidward si Pintar? Jika gravitasi itu alami, kenapa kau memakai baju? Supaya berat bajumu menahanmu agar tidak terbang, kan?"

Squidward memijat keningnya. "Aku memakai baju karena aku punya harga diri! Dan kau tetap di tanah karena massa tubuhmu, bukan karena sepasang alas kaki murahan itu!"

"Buktikan!" tantang Patrick. "Lepaskan bajumu dan biarkan dirimu melayang ke langit!"

"Aku tidak akan melepaskan bajuku di depan umum, kau merah muda aneh!" teriak Squidward kesal.

Patrick berpaling ke arah Spongebob. "Lihat itu, Spongebob. Dia takut. Dia tahu kalau dia melepas bajunya, dia akan berakhir di bulan. Itulah kenapa para astronot memakai baju yang sangat berat, supaya mereka tidak hilang di luar angkasa!"

Spongebob mulai terpengaruh. "Wah, masuk akal juga... Jadi kalau aku ingin melompat lebih tinggi, aku hanya perlu memakai sepatu yang lebih ringan?"

"Tepat sekali!" seru Patrick. "Dan itulah rahasia terbesarku. Aku sengaja tidak pernah memakai baju agar aku merasa lebih ringan, tapi aku selalu membawa sandal sebagai jangkar agar aku tidak hilang saat tidur."

Tiba-tiba, embusan angin kencang meniup sandal di atas kepala Patrick hingga jatuh ke bawah batu. Patrick panik luar biasa. Dia langsung tiarap dan mencengkeram permukaan batunya.

"TOLONG! JANGKARKU LEPAS! AKU AKAN TERBANG! SPONGEBOB, PEGANG KAKIKU SEBELUM AKU MENABRAK BULAN!" teriak Patrick histeris.

Spongebob dengan sigap melompat dan memegang kaki Patrick. "Aku menangkapmu, Patrick! Jangan menyerah pada gravitasi!"

Squidward hanya menggelengkan kepala, lanjut berjalan menuju rumahnya sambil bergumam, "Seharusnya aku pindah ke kota yang tidak memiliki oksigen agar mereka berdua berhenti bicara."

Sementara itu, Patrick masih tiarap di atas batunya, yakin bahwa jika dia melepaskan pegangannya sedikit saja, dia akan menjadi bintang laut pertama yang menetap di galaksi lain hanya karena kehilangan sepasang sandal.

Jangan pernah meremehkan alas kakimu, karena tanpa mereka, kau hanyalah balon gas yang menunggu waktu untuk terbang.