Bab 25
Pulang Hanya Membuang Waktu
Patrick akan mempertanyakan konsep Pulang sebagai sebuah pengulangan yang tidak ada gunanya.
Malam telah larut di depan Krusty Krab. Squidward baru saja melepas seragamnya (hanya topi) dan bersiap melangkah keluar dengan senyum tipis. Satu-satunya momen bahagia dalam harinya adalah saat dia akan pulang ke rumah untuk berendam air panas.
Namun, di depan pintu, Patrick Star sudah berdiri tegak seperti tugu peringatan, menghalangi jalan Squidward.
"Mau ke mana kau, Squidward?" tanya Patrick dengan nada menginterogasi.
"Pulang, Patrick. Ke tempat di mana tidak ada kau dan Spongebob. Minggir," jawab Squidward ketus.
Patrick merentangkan tangannya. "Untuk apa? Besok pagi kau akan kembali ke sini lagi, kan? Kau akan berdiri di balik kasir itu lagi, memakai topi konyol itu lagi, dan membenci hidupmu lagi."
Spongebob ikut keluar sambil mengunci pintu. "Tentu saja dia harus pulang, Patrick! Rumah adalah tempat untuk mengisi baterai kebahagiaan kita sebelum bekerja kembali!"
Patrick menggelengkan kepalanya dengan sangat lambat, membuat otak di dalamnya terdengar seperti kerikil dalam botol. "Spongebob, Spongebob... kau sangat polos. Coba hitung berapa banyak langkah yang kau buang untuk berjalan dari sini ke rumah nanasmu, hanya untuk berbalik dan berjalan ke sini lagi besok pagi?"
"Eh... sekitar tiga ratus langkah?" jawab Spongebob ragu.
"Artinya enam ratus langkah pulang-pergi!" seru Patrick. "Enam ratus langkah yang tidak menghasilkan uang! Enam ratus langkah yang sebenarnya bisa kau gunakan untuk diam di tempat! Kenapa kau harus pergi jika kau akan kembali? Itu seperti mencuci tangan sebelum kau makan lumpur!"
Squidward mendengus. "Itu namanya istirahat, kau bintang laut bodoh!"
"Tidak, Squidward! Itu namanya penundaan lokasi!" balas Patrick. "Jika kau tahu kau akan berakhir di kasir itu besok pagi, kenapa kau tidak tidur saja di lantai kasir? Dengan begitu, kau sudah sampai di tempat kerja sebelum kau bangun! Kau menghemat waktu perjalanan, menghemat tenaga, dan yang paling penting... kau tidak perlu rindu pada pekerjaanmu karena kau tidak pernah meninggalkannya!"
Tuan Krabs, yang sedang menghitung sisa saus di dapur, mendadak muncul dengan mata berbinar. "Tunggu... kalau kalian tidak pulang, aku bisa menyewakan lantai restoran ini sebagai asrama bagi kalian, karena kalian akan terus berada di sini?"
"Tepat sekali, Tuan Krabs!" ujar Patrick. "Pulang adalah konspirasi perusahaan sepatu agar sepatu kita cepat aus karena terlalu banyak berjalan!"
Logika Patrick langsung merasuki warga yang sedang lewat. Mereka mulai berpikir: Kenapa aku harus pulang ke rumah kalau besok aku harus kembali ke kantor/toko/selokan tempatku bekerja?
Dalam waktu singkat, Bikini Bottom menjadi kacau secara geografis. Orang-orang mulai menggelar kasur di tempat kerja mereka masing-masing. Tukang pos tidur di atas kotak surat, dokter tidur di ruang operasi, dan polisi tidur di tengah perempatan jalan (agar tidak perlu pergi ke TKP besok).
Krusty Krab kini penuh sesak. Spongebob tidur di dalam penggorengan (yang sudah dimatikan), Tuan Krabs tidur di dalam brankasnya, dan Patrick... Patrick tidur di meja makan nomor 3 karena dia merasa bekerja sebagai pelanggan tetap.
Hanya Squidward yang masih berdiri kaku. "Aku tidak akan tidur di sini! Aku punya tempat tidur yang empuk dan harum bunga lavender di rumah!"
"Squidward," panggil Patrick dari kegelapan. "Jangan egois. Jika kau pulang, kau sedang mengkhianati efisiensi ruang dan waktu. Kau hanya akan lelah karena berjalan, lalu lelah lagi karena harus kembali. Tetaplah di sini... di balik kasirmu... selamanya..."
Squidward menatap kasirnya yang dingin, lalu menatap jalanan yang menuju rumahnya. Dia mulai merasa ragu. Apakah benar aku hanya membuang langkah?
Keesokan paginya, Bikini Bottom menjadi kota yang paling cepat karena semua orang sudah ada di tempat kerja saat bangun tidur. Tapi ada satu masalah, karena tidak pernah pulang, mereka mulai kehilangan ingatan tentang siapa diri mereka di luar pekerjaan.
Spongebob mulai menganggap spatula adalah istrinya, dan Tuan Krabs mulai lupa cara membuka pintu karena dia merasa tidak ada alasan untuk keluar.
Squidward, yang akhirnya menyerah dan tidur di atas mesin kasir, bangun dengan leher kaku dan wajah yang tertempel struk belanjaan. Dia menatap Patrick yang masih mendengkur di meja.
"Patrick..." gumam Squidward lemas. "Jika kita tidak pernah pulang... apakah itu artinya kita tidak pernah punya waktu luang?"
Patrick terbangun, mengucek matanya, dan menjawab dengan santai, "Waktu luang adalah waktu yang kau gunakan untuk berpikir kapan kau harus pulang, Squidward. Sekarang kau tidak perlu berpikir lagi. Bukankah itu melegakan?"
Squidward hanya bisa menatap langit-langit Krusty Krab, menyadari bahwa logika Patrick telah mengubah hidupnya menjadi shift kerja abadi tanpa akhir.
Benar-benar kekacauan yang lahir dari rasa malas berjalan kaki! Patrick berhasil menghapus konsep Rumah demi efisiensi langkah.