Bab 24
Filosofi Kain yang Sia-sia
Patrick akan membawa konsep minimalisme ke tingkat yang sangat ekstrem dan mengganggu ketertiban umum.
Siang itu, Squidward sedang menikmati tehnya di teras rumah dengan tenang, sampai dia melihat sebuah pemandangan yang membuatnya tersedak. Patrick Star berjalan melenggang dengan sangat percaya diri tanpa celana hijaunya yang ikonik. Dia hanya membawa sebuah gantungan baju kosong.
"Patrick!" teriak Squidward sambil menutup matanya dengan tangan. "Di mana celanamu?! Ini tempat umum, bukan kamar mandimu yang kotor itu!"
Patrick berhenti, menatap Squidward dengan tatapan filosofis. "Squidward, aku baru saja menyelamatkan dunia dari perbudakan tekstil."
Spongebob keluar dari rumah nanasnya, masih memakai celana kotak lengkap dengan dasinya, namun dia tampak ragu. "Patrick, apa kau lupa memakai baju lagi? Ini sudah kelima kalinya minggu ini."
"Bukan lupa, Spongebob. Aku memutuskan," ujar Patrick tegas. "Coba pikirkan dengan otak kotakmu itu. Kita memakai baju di pagi hari, lalu apa yang kita lakukan di malam hari? Kita melepaskannya! Lalu apa? Kita mencucinya! Membuang air, membuang sabun, membuang listrik, dan membuang tenaga untuk menyetrika!"
Patrick mendekat ke arah Spongebob dengan nada membujuk. "Kenapa kita harus melewati proses panjang itu kalau pada akhirnya kita akan kembali ke bentuk asli kita? Memakai baju hanyalah menunda ketelanjangan yang tak terelakkan. Itu adalah pemborosan biaya hidup!"
Spongebob terperangah. "Benar juga... kalau aku tidak pakai celana, aku tidak perlu mencuci. Kalau aku tidak mencuci, aku hemat air. Kalau aku hemat air, aku menyelamatkan laut!"
Dalam sekejap, doktrin Anti-Kain Patrick meledak. Warga Bikini Bottom mulai melemparkan baju, celana, dan topi mereka ke jalanan. Toko pakaian Tog's langsung bangkrut dalam hitungan jam karena tidak ada lagi yang mau membeli sesuatu yang hanya akan dilepas nanti.
Namun, masalah besar muncul di Krusty Krab.
Tuan Krabs berdiri di depan pintu restorannya dengan wajah merah padam, menghalangi antrean warga yang kini semuanya tidak memakai baju. "BERHENTI! TIDAK ADA BAJU, TIDAK ADA PELAYANAN! Ini tidak sopan dan merusak citra eksklusif Krusty Krab!"
"Tapi Tuan Krabs," protes salah satu pelanggan, "kalau kami tidak pakai baju, kami punya uang lebih banyak untuk beli Krabby Patty karena tidak perlu beli deterjen!"
Tuan Krabs bimbang. Di satu sisi, dia benci ketidaksopanan. Di sisi lain, dia lebih mencintai uang dari penghematan deterjen warga. Tapi kemarahannya memuncak saat melihat Spongebob muncul di dapur hanya dengan memakai topi koki dan... yah, hanya topi koki.
"SPONGEBOB! Pakai celanamu sekarang juga! Kau bisa menjatuhkan remah-remah badanmu ke dalam panggangan!" teriak Tuan Krabs histeris.
"Tapi Tuan Krabs, Patrick bilang memakai celana adalah tindakan melawan takdir," jawab Spongebob polos.
Squidward, yang sedari tadi hanya menatap datar, akhirnya meledak. "Kalian semua sudah gila! Kita ini makhluk beradab! Kita pakai baju untuk membedakan diri kita dari ubur-ubur yang tidak punya otak!"
Patrick muncul di belakang Squidward. "Squidward, kau marah karena kau merasa terbebani oleh kemeja cokelatmu yang sempit itu. Lepaskanlah... biarkan kulitmu bernapas tanpa sensor!"
Saat Patrick mencoba membantu Squidward melepas kemejanya, kerusuhan pecah. Polisi Bikini Bottom datang, tapi mereka juga bingung harus menangkap siapa karena mereka sendiri sedang berdebat apakah seragam polisi mereka itu perlu atau cuma pajangan.
Di penghujung hari, Tuan Krabs terpaksa memasang aturan baru: "Boleh tidak pakai baju, tapi harga burger naik 200% sebagai biaya sewa pemandangan yang tidak mengenakkan."
Patrick duduk di atas batunya, merasa menang. "Lihat Spongebob, dunia sekarang lebih ringan tanpa beban kain."
Spongebob mengangguk, meski dia merasa sedikit kedinginan. "Tapi Patrick, bagaimana kalau kita ingin menyimpan dompet kalau tidak punya saku?"
Patrick terdiam. Dia menatap dompetnya, lalu menatap tubuhnya yang polos. "Hmm... sepertinya kita butuh operasi untuk membuat saku di perut kita."
Squidward yang mendengar itu langsung mengemas koper. "Cukup. Aku pindah ke daratan. Aku lebih baik digoreng manusia daripada harus mendengar ide saku perut Patrick."
Patrick berhasil membuat seluruh kota menjadi kaum naturalis dadakan hanya demi efisiensi listrik. Benar-benar kacau!