Bab 21
Evolusi Tupai Laut
Ini adalah konfrontasi intelektual yang paling tidak seimbang! Patrick akan mencoba membedah seluruh karier ilmiah Sandy Cheeks hanya dengan satu pertanyaan bodoh yang sebenarnya... masuk akal secara teknis.
Sandy Cheeks sedang sibuk di dalam kubah udaranya, mengkalibrasi mesin pengolah energi terbarunya. Tiba-tiba, sebuah ketukan keras terdengar dari kaca kedap udaranya. Di luar, Patrick Star sedang menempelkan wajahnya ke kaca hingga hidungnya gepeng (meski sebenarnya dia tidak punya hidung), sambil memegang sebuah papan tulis kecil.
Sandy menghela napas, membuka pintu kedap udaranya, dan membiarkan Patrick masuk (setelah Patrick memakai helm airnya).
"Ada apa, Patrick? Aku sedang sibuk mencoba menciptakan bahan bakar roket dari kacang tanah," ujar Sandy sambil kembali ke mejanya.
Patrick tidak menjawab dengan kata-kata. Dia berjalan mengelilingi Sandy, menatap baju luar angkasa Sandy dari atas ke bawah, lalu menggelengkan kepala dengan ekspresi sangat kecewa.
"Sandy," kata Patrick dengan nada berat. "Kau bilang kau adalah seorang ilmuwan yang jenius, kan?"
Sandy membusungkan dada bangga. "Tentu saja! Aku punya gelar doktor dalam bidang fisika, biologi laut, dan karate!"
Patrick menunjuk helm Sandy yang berada di atas meja. "Lalu kenapa kau masih memakai akuarium di kepalamu? Kau sudah tinggal di sini bertahun-tahun, Sandy. Tapi kau masih harus bergantung pada mesin oksigen dan baju berat itu. Jika kau benar-benar pintar, kenapa kau tidak menggunakan sainsmu untuk mengubah dirimu menjadi ikan?"
Sandy terhenti. Tangannya yang memegang kunci inggris membeku. "Apa? Patrick, itu namanya rekayasa genetika yang sangat kompleks dan..."
"Atau setidaknya," potong Patrick sambil mendekat, "Gantilah paru-parumu dengan insang. Kau ilmuwan, Sandy! Tinggal bedah sedikit, pasang saringan kopi di lehermu, dan boom! Kau bisa berenang bebas tanpa perlu takut kehabisan napas. Kenapa kau memilih membangun rumah yang rumit daripada membangun tubuh yang efisien?"
Spongebob, yang baru saja datang membawa nampan berisi teh kacang, ikut berpikir. "Benar juga, Sandy. Jika kau punya insang, kita bisa berburu ubur-ubur tanpa kau harus membawa tabung oksigen yang berat itu. Kau bisa menjadi tupai laut pertama yang tidak takut bocor!"
Sandy mencoba menjelaskan dengan logika sains. "Dengar kalian berdua, fisiologi mamalia itu tidak sesederhana itu! Jantungku, tekanan darahku, dan suhu tubuhku didesain untuk daratan. Aku tidak bisa hanya memasang saringan kopi dan berharap bisa bernapas di air!"
Patrick mengangkat bahu dengan santai. "Itu artinya kau malas, Sandy. Kau lebih suka menghabiskan jutaan dolar untuk membangun kubah kaca ini daripada melakukan operasi kecil pada lehermu. Kau ilmuwan yang terjebak dalam zona nyaman paru-paru."
Patrick kemudian menunjuk sebuah ubur-ubur yang lewat di luar. "Lihat dia. Dia tidak punya gelar doktor, dia tidak punya mesin oksigen, tapi dia bisa tinggal di sini tanpa bayar sewa. Ubur-ubur itu lebih ilmiah darimu karena dia sudah menyelesaikan masalah bernapas sejak lahir."
Sandy mulai merasakan denyut di keningnya. Dia melihat Patrick, lalu melihat mesin oksigennya yang sangat mahal, lalu melihat ubur-ubur di luar.
"Patrick," kata Sandy dengan suara pelan yang menahan amarah. "Kau tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengubah DNA mamalia menjadi amfibi?"
"Hanya sebentar jika kau tidak banyak alasan, Sandy," jawab Patrick datar. "Aku saja bisa mengubah diriku menjadi orang yang pura-pura pintar hanya dengan memakai kacamata Squidward. Kenapa kau tidak bisa?"
Sandy menatap kunci inggris di tangannya, lalu menatap kepala Patrick yang berwarna merah muda. Dia punya sejuta argumen ilmiah tentang evolusi, struktur sel, dan etika kedokteran. Tapi saat dia melihat tatapan kosong namun menghakimi dari Patrick, Sandy menyadari satu hal. Berdebat dengan Patrick adalah pemborosan oksigen yang paling nyata.
Sandy perlahan meletakkan alat-alatnya, berjalan ke pintunya, dan membukanya lebar-lebar.
"Keluar," kata Sandy pendek.
"Kau mau melakukan operasinya sekarang?" tanya Patrick antusias.
"Keluar, Patrick. Sebelum aku mengubah DNA-mu menjadi sosis goreng," ancam Sandy dengan senyum yang sangat dipaksakan.
Saat Patrick dan Spongebob berjalan pulang, Patrick menatap Spongebob. "Kasihan Sandy, Spongebob. Dia punya semua teknologi itu, tapi dia masih takut pada air. Ilmuwan zaman sekarang memang terlalu banyak teori, kurang aksi."
Di dalam kubahnya, Sandy hanya duduk diam, menatap mesin oksigennya, dan mulai mempertanyakan apakah selama ini dia memang hanya tupai yang terlalu rumit.
Patrick berhasil membuat ilmuwan terbaik di Bikini Bottom kehilangan gairah untuk berdebat. Sebuah kemenangan bagi kebodohan praktis!