Bab 17
Simfoni Pompa Ban

Malam itu, Squidward sedang berada di puncak inspirasi. Dia berdiri di ruang tamunya, memejamkan mata, dan bersiap meniup nada tinggi yang dramatis dengan klarinetnya.

Preeeee—

"HENTIKAN! KAU BISA PINGSAN, SQUIDWARD!"

Patrick mendobrak pintu rumah Squidward sambil membawa pompa ban sepeda besar dan gulungan lakban. Spongebob mengekor di belakangnya dengan ekspresi sangat cemas.

Squidward menurunkan klarinetnya, wajahnya memerah karena emosi yang tertahan. "Patrick! Apa yang kau lakukan di rumahku?! Aku sedang mencoba mencapai nada C tinggi!"

"Itulah masalahnya, Squidward!" seru Patrick sambil meletakkan pompa ban itu di depan kaki Squidward. "Aku melihatmu meniup benda itu setiap hari. Pipimu menggembung sampai merah, lehermu uratnya keluar, dan kau terlihat seperti akan meledak! Kau membuang-buang napasmu yang berharga!"

Squidward menatap klarinetnya. "Itu namanya teknik pernapasan, kau bintang laut tak berbudaya!"

"Tidak, Squidward! Itu namanya kerja paksa paru-paru!" Patrick mengambil klarinet Squidward, dia mulai melilitkan ujung selang pompa ke bagian tiup klarinet dengan lakban. "Logikanya sederhana. Kenapa kau harus menggunakan paru-parumu yang kecil dan lemah itu jika ada mesin pompa yang bisa memberikan udara sepuluh kali lebih kuat?"

Spongebob manggut-manggut. "Benar juga, Squidward. Dengan pompa ini, kau tidak perlu berhenti meniup untuk bernapas. Kau bisa meniup selama satu jam penuh tanpa berhenti!"

"Lihat!" Patrick mulai menginjak pompa itu dengan cepat. Cus! Cus! Cus! Udara masuk ke klarinet dan mengeluarkan suara melengking yang mengerikan.

TIIIITTTTTT!!!

"Sekarang," kata Patrick sambil terus memompa. "Kau hanya perlu menggerakkan jarimu di lubang-lubang itu. Paru-parumu bisa beristirahat, dan tanganmu yang bekerja. Ini adalah pembagian kerja yang adil!"

Squidward menatap alat musiknya yang kini tersambung ke pompa ban seperti pasien rumah sakit yang sedang diinfus. Dia menatap Patrick dengan pandangan yang bisa membekukan air laut.

"Patrick," kata Squidward dengan suara bergetar. "Alat musik yang menggunakan udara dari kantong atau pompa sambil tangan menggerakkan tuts itu sudah ada. Namanya Akordeon. Dan itu bukan klarinet!"

Patrick terdiam sejenak. Dia menatap pompa ban, lalu menatap klarinet. "Akordeon? Kedengarannya seperti nama penyakit kulit."

"Bukan! Itu alat musik!" teriak Squidward. "Esensi dari klarinet adalah perasaan yang kau tiupkan melalui napasmu! Jika aku menggunakan pompa, tidak ada jiwanya! Itu hanya suara udara yang dipaksa keluar dari pipa kayu!"

Patrick menggelengkan kepala dengan iba. "Squidward, kau terlalu terikat pada jiwa. Jiwa tidak bisa membuat nada tinggi yang stabil, tapi tekanan dari pompa ini bisa!"

Patrick mulai menginjak pompa lebih kencang lagi. CUS! CUS! CUS! Suara klarinet Squidward mulai terdengar seperti sirine kapal pecah yang sedang menangis. Spongebob mulai menari-nari karena mengira itu adalah musik techno baru.

"Lihat, Squidward! Kau tidak perlu meniup, dan suaranya jauh lebih keras!" teriak Patrick di tengah kebisingan. "Kau bahkan bisa makan krabby patty sambil bermain klarinet karena mulutmu bebas!"

Squidward merampas klarinetnya, mencabut lakbannya dengan kasar, dan menunjuk ke arah pintu. "KELUAR! Aku tidak mau mengubah klarinetku menjadi ban sepeda! Dan aku tidak mau bermain akordeon KW buatanmu!"

Saat Patrick dan Spongebob berjalan keluar, Patrick menghela napas panjang. "Spongebob, itulah masalah orang seni. Mereka lebih suka menderita demi tradisi daripada hidup nyaman dengan teknologi pompa."

Spongebob mengangguk. "Mungkin kita harus menawarkan ide ini pada pemain trompet, Patrick. Mereka pasti punya masalah pipi yang lebih parah."

Di dalam rumahnya, Squidward mencoba meniup klarinetnya lagi secara normal. Namun, setiap kali dia meniup, dia jadi teringat kata-kata Patrick dan mulai merasa lelah sendiri. Akhirnya, dia meletakkan klarinetnya dan pergi tidur.

Patrick benar dalam satu hal. Berpikir tentang cara bermain musik ternyata jauh lebih melelahkan daripada bermain musik itu sendiri.