Bab 10
Krisis Eksistensi di Dalam Air

Sore itu, Patrick sedang berdiri di pinggir jalan sambil memegang segelas air. Dia menatap gelas itu, lalu menatap laut di sekelilingnya, lalu menatap gelas itu lagi. Spongebob yang melihat dari jendela menghampirinya dengan handuk di leher, siap untuk pergi mandi.

"Ada apa, Patrick? Kau terlihat seperti sedang mencoba menghitung pasir," tanya Spongebob.

Patrick menunjuk gelas di tangannya dengan wajah pucat. "Spongebob, jelaskan padaku... kenapa aku harus minum air, padahal aku sedang berada di dalam air? Apakah perutku adalah akuarium di dalam akuarium?"

Spongebob terdiam melihat gelas itu, mencoba mencari penjelasan yang masuk akal. "Eh... mungkin air di gelas itu lebih basah daripada air di luar, Patrick?"

"Dan lihat itu!" Patrick menunjuk ke arah tong sampah yang mengeluarkan asap. "Ada api di sana! Bagaimana api bisa menyala di tempat yang seharusnya memadamkannya? Dan kenapa tadi pagi turun hujan? Kita sudah basah, Spongebob! Kenapa air jatuh ke dalam air dan membuat kita panik mencari payung?!"

Patrick mulai histeris. Dia menunjuk ke arah Spongebob. "Dan kenapa kau mau mandi?! Kau sedang berenang sepanjang hidupmu! Mandi di dalam laut itu seperti mencoba mengeringkan handuk dengan cara mencelupkannya ke bak mandi!"

Logika ini mulai menarik perhatian warga. Mereka mulai berhenti dan menyadari betapa tidak masuk akalnya hidup mereka. Seekor ikan mulai menangis karena bingung kenapa dia harus berjalan untuk pergi ke tempat kerja, padahal dia bisa saja berenang, tapi tidak bisa karena dia sudah tenggelam di dasar.

"Kenapa kita tidak melayang ke atas saja?!" teriak Patrick. "Kenapa kita berjalan di dasar air seolah-olah ada gravitasi daratan yang mengikat kita? Kita bisa bebas! Kita bisa berenang ke mana saja, tapi kenapa kita memilih untuk mengantre di bus?!"

Saat massa mulai kacau dan mempertanyakan hukum alam, Squidward keluar dengan wajah yang lebih lelah dari biasanya. Dia memegang sebuah naskah tua dan menatap mereka dengan tatapan kosong.

"Kalian ingin tahu kebenarannya?" tanya Squidward dengan suara datar.

Warga terdiam. Patrick menatap Squidward dengan mata bulatnya. "Katakan, Squidward! Kenapa air bisa terbakar?!"

Squidward menghela napas panjang, lalu menunjuk ke arah langit laut yang terlihat seperti layar besar. "Kalian ingin tahu kenapa ada api di bawah air? Kenapa ada hujan di dalam samudera? Kenapa kau butuh minum padahal kau sudah tenggelam? Jawabannya sederhana..."

Squidward menjeda, membuat suasana semakin tegang.

"...karena kita hanya KARTUN."

Hening. Seekor ubur-ubur lewat dengan suara bzzzzt.

"Kartun?" tanya Spongebob polos. "Seperti gambar yang bergerak di TV?"

"Ya," lanjut Squidward. "Kita hanyalah kumpulan tinta dan warna yang digerakkan oleh animator yang malas untuk mematuhi hukum fisika. Api itu ada karena itu lucu. Hujan itu ada karena itu dramatis. Dan kau, Patrick, kau bodoh karena itu adalah tuntutan kontrak kerjamu."

Patrick menatap tangannya. Dia mencoba mencubit kulitnya yang berwarna merah muda. "Jadi... aku tidak nyata? Aku hanya garis-garis tinta?"

"Tepat," kata Squidward. "Jadi berhentilah bertanya kenapa air itu basah atau kenapa kita mandi. Tidak ada logika di sini. Semuanya hanya demi rating."

Patrick terdiam sejenak. Warga mulai saling lirik, merasa hampa karena menyadari eksistensi mereka hanya sebuah hiburan. Namun, bukan Patrick namanya jika dia tidak memelintir kebenaran yang paling pahit sekalipun.

"Tunggu dulu..." Patrick tersenyum lebar, senyum yang paling mengerikan yang pernah dilihat Squidward. "Jika kita adalah kartun... itu artinya... TIDAK ADA KONSEKUENSI!"

Patrick tiba-tiba mengambil sebuah palu raksasa dari udara kosong (karena dia kartun) dan memukulkannya ke kepalanya sendiri sampai kepalanya berbentuk seperti akordeon. Telolet-telolet! Kepala Patrick kembali normal dalam sekejap.

"Lihat! Aku abadi!" seru Patrick. "Spongebob! Karena kita kartun, kita tidak perlu makan untuk energi! Kita makan karena kita suka melihat wajah Tuan Krabs saat dia melihat uang!"

Patrick mulai berlari di udara, mengabaikan gravitasi sepenuhnya. Warga yang tadinya depresi kini mulai melakukan hal-hal gila. Mereka mulai mengubah bentuk tubuh mereka menjadi balon, menabrakkan diri ke dinding tanpa luka, dan mengeluarkan benda-benda aneh dari balik punggung mereka.

Squidward memijat pelipisnya. "Apa yang telah kulakukan..."

"Terima kasih, Squidward!" teriak Patrick sambil terbang melewati rumah Squidward. "Sekarang aku tahu kenapa aku bisa minum air di dalam air! Itu karena aku tidak punya organ dalam, aku hanya punya lapisan warna!"

Spongebob tertawa riang. "Ayo Squidward! Bergabunglah! Lepaskan logikamu yang membosankan itu dan jadilah dua dimensi bersama kami!"

Squidward hanya berbalik masuk ke rumahnya. "Aku lebih suka merasa nyata dan menderita daripada tidak nyata dan harus berteman dengan dua makhluk bodoh yang tahu mereka adalah gambar."

Di luar, Patrick sedang mencoba menghapus garis pada dirinya, sementara Tuan Krabs mulai menghitung berapa banyak biaya yang bisa dia hemat karena tidak perlu lagi memberikan asuransi kesehatan bagi karyawannya.